Indonesia Butuh Bank Khusus Agrobisnis

Surabaya – Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) mendesak pemerintah segera membentuk bank khusus menangani sektor agrobisnis termasuk perkebunan. Upaya pendirian bank agrobisnis diharapkan bisa menjadi pendorong proses revitalisasi industri perkebunan kopi, sesuai target Indonesia sebaga produsen kopi terbesar di kawasaan Asia Tenggara.

Ketua GAEKI, Hamdani Sugandhi di Surabaya, Minggu (24/3/2013) mengatakan proses untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kopi nomor satu dunia dengan langkah awal terbesar di Asia Tengara secara simultan.

“Upaya itu harus digarap dari hulu maupun hilir, dari proses on farm-nya hingga off farm khususnya sisi industri. Langkah ini, dan melibatkan multi-stakehoder untuk dirumuskan sejumlah kebijakan dalam upaya peningkatan produksi kopi nasional,” katanya.

Sugandhi menambahkan, produksi kopi nasional saat ini mencapai kisaran 600.000 ton per tahun, volume itu menempatkan Indonesia sebagai produsen ke-3 dunia. Posisi Indonesia masih kalah dengan Brazil dan Vietnam yang kinimenempati posisi ke-2. Hal ini menjadi tantangan agar Indonesia bisa naik kelas minimal mengalahkan Vietnam yang kini mampu memproduksi kopi 1,2 juta ton peer tahun.

Sugandhi mengatakan upaya ekstensifikasi yang bertumpu pada pembukaan lahan baru bagi perkebunan kopi sulit dilakukan, sehingga produksi. ditingkatkan karena pada sisi ini Indonesia kalah jauh dengan Vietnam.

“Peningkatan produktivitas terkait sentuhan teknologi yang seharusnya sudah mulai dimasukkan dalam skema perkebunan kopi nasional, selain upaya revitalisasi tanaman kopi termasuk perkebunan kopi rakyat dengan varietas unggul sehingga produktifitas akan meningkat dengan sendirinya,” tegasnya.

Sementara upaya di sektor hulu, kata Sugandhi, maupun sektor hilir di industri kopi di Indonesia akan semakin terakselerasi bila didukung dengan adanya sistem perbankan yang ramah bagi usaha agrobisnis.

“Terus terang perbankan nasional masih belum seramah negara tetangga Malaysia, Thailand maupun Vietnam dalam proses pembiayaan sektor agrobisnis khususnya perkebunan dan industri kopi. Faktor ini sedikit banyak menghambat proses revitalisasi industri perkebunan kopi nasional,” ungkapnya.

Bahkan kata Sugandhi, pihaknya sangat mendukung jika pemerintah secara khusus mendirikan bank yang bergerak di sektor agribisnis. “Gaeki mendukung penuh jika pemerintah merealisasikan pembentukan bank agroindustri guna mendukung proses penguatan dan revitalisasi sejumlah sektor pekebunan nasional khususnya kopi,” ujarnya.

Sementara Sekretaris Jendral GAEKI dan juga Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Jatim, Isdarmawan Asrikan menyatakan kalangan pengusaha perkebunan sangat mendambakan keberadaan bank sektor agrobisnis. “Indonesi sebagai negara agraris tapi belum memiliki bank agrobisnis. Pemerintah mesti mendorong agar pembentukan bank ini bisa terealisir karena . sektor pertanian, perkebunan dan turunannya merupakan sektor padat karya sekaligus padat modal, sehingga perlu perhatian khusus,” kata Isdarmawan.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Gita Wiryawan menegaskan pihaknya sangat berharap industri kopi Indonesia bisa bangkit dan meningkatkan produksinya sehinga menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Saat ini Indonesia masih kalah dengan Vietnam, untuk itu dalam jangka pendek kalangan pelaku usaha kopi nasional mesti bergerak untuk mengalahkan Vietnam lalu menjadi produsen terbesar dunia.

Hal itu diungkap Gita saat berkunjung di PT Aneka Coffee Industri, Sidoarjo, Selasa,(19/3/2013). Pemerintah kata Gita, juga telah menyiapkan kredit usaha rakyat bagi petani kopi untuk membantu membiayai pengembangan usaha perkebunan kopi. Upaya perbaikan akan dilakukan dari hulu hingga hilir agar industri kopi nasional menjadi lebih maju dan berkembang.

Sumber: KOMPAS.com (24 Maret 2013), Diakses: 24 Maret 2013

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *