Langkah Strategis Pembangunan Kecamatan Rikit Gaib (Bag.2)

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah presentasi yang dipersiapkan Penulis dalam acara Seminar Pembangunan Kecamatan Rikit Gaib yang diselenggarakan di Mersah Kota Rikit Gaib, pada tanggal 06 Februari 2016 silam, dimana Kepala BAPPEDA Kabupaten Gayo Lues didaulat menjadi salah satu nara sumbernya. Tulisan ini dipecah menjadi dua tulisan, bagian pertama mengulas tantangan pembangunan Rikit Gaib dan bagian kedua akan fokus pada strategi pengembangan kecamatannya.


Setelah bagian awal menjelaskan mengenai tantangan pembangunan yang sedang dan akan dihadapi oleh Kecamatan Rikit Gaib, bagian ini akan membahas mengenai prospek atau potensi pengembangan Kecamatan Rikit Gaib ke depan. Setidaknya ada empat potensi yang dapat dikembangkan oleh Rikit Gaib untuk menjadi kecamatan maju.

Potensi pertama adalah potensi remitansi wilayah sebagai sumber investasi daerah. Remitansi secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah arus transfer uang/modal ke dalam daerah dari seseorang yang bekerja di luar daerahnya. Untuk konteks global, remitansi memainkan peranan penting dalam percepatan perekonomia banyak negara. Sebagai contoh sederhana adalah India. India, negara dengan kepadatan penduduk paling tinggi nomor dua sedunia, mampu mendapatkan arus penerima remitansi terbesar senilai lebih dari 70 milyar dolar pada tahun 2014 (12% dari total arus remitansi dunia). Untuk konteks lokal, Rikit Gaib seharusnya juga penerima transfer modal tertinggi se-Gayo Lues, ini karena putra Rikit Gaib banyak yang telah menjadi orang berhasil di luar daerah. Remitansi untuk Rikit Gaib ini jika dikelola secara tepat, tentu akan mejadi sumber investasi pengembangan daerah.

Selanjutnya, Rikit Gaib yang dikaruniai alam yang tidak begitu subur menjadi sebuah berkah terselubung. Dengan kondisi geografis sedemikian rupa, Rikit Gaib berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan industri. Selain faktor akses yang mudah dimana kecamatan ini terbentang sepanjang jalan negara menghubungkan Gayo Lues dan Aceh Tengah, kecamatan Rikit Gaib juga memiliki bahan baku industri dalam jumlah besar, seperti getah pinus maupun mineral galena. Untuk getah pinus, di Rikit Gaib telah didirikan dua buah pabrik gondorukem. Dengan asumsi satu pabrik mampu menampung 3000 pekerja, beroperasinya dua pabrik ini tentu akan membuka 6000 lapangan pekerjaan baru bagi Rikit Gaib. yang harus dipastikan sekarang adalah bagaimana Kawasan Industri Rikit Gaib ini nantinya dapat secara nyata memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi riil Rikit Gaib dan keberlangsungan lingkungan hidup dapat terjaga.

Potensi besar berikutnya yang dapat dikembangkan di Rikit Gaib adalah di sektor peternakan. Gayo Lues pernah tercatat dalam sejarah sebagai sentra peternakan utama di Aceh pada masa lalu, utamanya ternak kerbau. Namun, dalam tiga tahun terakhir terjadi penurunan populasi kerbau di Gayo Lues dari awalnya terdata sebanyak 18.378 ekor kerbau pada tahun 2011 yang kemudian berkurang lebih dari separuhnya hanya mencapai 8.855 ekor di tahun 2014 (BPS, 2015). Hal ini menjadi sebuah kelemahan namun sekaligus peluang bagi daerah untuk kembali membangkitkan kejayaan masa lalu. Khusus Rikit Gaib, terdapat sekitar 511 ha kawasan peternakan yang diplot dalam RTRW, yang jika digunakan asumsi dasar (satu hektar lahan untuk lima ekor kerbau), maka di Rikit Gaib dapat diternakkan sekitar 2.555 ekor kerbau. Sehingga selain berdampak terhadap bertambahnya populasi kerbau, Rikit Gaib dapat dikenal menjadi “kampung perueren” utama Gayo Lues.

Terakhir, Rikit Gaib dapat pula dikembangkan menjadi destinasi wisata utama Gayo Lues. Satu yang paling utama adalah atraksi wisata geologi. Saat ini, Atu Peltak di Kampung Penomon Jaya telah dikenal secara lokal sebagai salah satu tempat kunjugan favorit masyarakat Rikit Gaib sekitarnya. Atu Peltak ini bila dikembangkan secara berpengetahuan dapat menjadi wisata andalan Gayo Lues sebagai sebuah situs geopark di Aceh. Dalam RTRW, luas kawasan karst di Rikit Gaib mencapai 7.997,2 hektar, sebuah luasan yang signifikan untuk potensi pengembangan kawasan wisata geologi.

Penulis: Edwin Sudharma (Salah satu Staf Bidang Penelitian dan Statistik BAPPEDA Kabupaten Gayo Lues)

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *